Tue. Oct 22nd, 2019

SMA IT AL IRSYAD PURWOKERTO

Berprestasi Tinggi, Terdepan dalam Akhlak Mulia

Shalat Istisqa, memohon hujan

3 min read

Pengertian

Salat istisqa’ adalah salat memohon hujan kepada Allah SWT ketika keadaan mendesak. Salat ini hukumnya sunah muakkadah (dikuatkan) bagi orang yang mukim maupun yang sedang bepergian (musafir).

Dasar Salat Istisqa’

Dasar dari salat istisqa’ sangat banyak hadis yang menjelaskan. Diantaranya adalah perbuatan Nabi saw.

خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَسْقِيْ فَجَعَلَ إِلَى النَّاسِ ظَهْرَهُ وَاسْتَقْبَلَ القِبْلَةَ وَحَوَّلَ رِدَاءَهُ. رواه مسلم. وزاد البخاري : جَهَرَ فِيْهِمَا باِلقِرَاءَةِ

Artinya, “Suatu hari Rasulullah saw. keluar salat istisqa’, maka beliau membelakangi manusia/makmum (saat berdoa) dan menghadap kiblat dan memindahkan selendangnya.” Imam Bukhari menambahkan dalam hadisnya bahwa Rasulullah saw. membaca jahr (keras) dalam dua rakaat salat istisqa’. (H.R. Muslim)

Cara Melaksanakannya

Pertama, imam atau ulama mengingatkan masyarakat akan azab Allah, membaca istigfar,  berhenti berbuat zalim dan maksiat, banyak berbuat kebaikan seperti sedekah dan berpuasa tiga hari sebelum salat dimulai. Karena dosa dan maksiat yang dilakukan manusia menyebabkan tertahannya hujan di atas langit dan keringnya mata air di bumi. Ini semua menyebabkan kehidupan manusia, binatang, dan tumbuhan mengalami kesusahan dan bencana dimana-mana.  

Kedua, setelah berpuasa tiga hari, pada hari keempat semua penduduk disuruh keluar rumah. Bahkan, kalau bisa membawa hewan ternak mereka ke tanah lapang. Sebaiknya masyarakat menggunakan pakaian yang sederhana dan tidak menggunakan wangi-wangian serta tidak berhias. Karena wewangian dan berhias adalah simbol kesenangan. Selama perjalanan dari rumah hingga menunggu waktu salat masyarakat dianjurkan memperbanyak membaca istigfar.

Ketiga, imam memimpin salat istisqa’ dua rakaat dengan suara jahr (keras) seperti salat jumat.

Keempat, setelah salat, imam atau khatib naik mimbar untuk menyampaikan khotbah. Pada khotbah pertama khatib membaca istigfar 9 kali dan di khotbah yang kedua membaca istigfar 7 kali.

Kelima, khatib berdoa di khotbah yang kedua dengan mengangkat tangan lebih tinggi dan diaminkan oleh para jamaah. Saat khatib berdoa maka ia membelakangi jamaah dan menghadap kiblat serta mengubah posisi selendangnya yang kanan ke kiri dan yang di atas ke bawah.   

Istigfar dan Doa Istisqa’

Lafadz istigfar diantaranya:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ الَّذِيْ لاَإلهَ إِلاَّ هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Artinya, “Saya memohon ampunan Allah Yang Maha Agung, tidak ada tuhan selain Allah. Dia Yang Maha Hidup dan berdiri sendiri dan saya bertobat kepada-Nya.”

Doa Istisqa’

Doa yang sering dibaca dalam salat istisqa’ baik dalam khotbah maupun di luar khotbah adalah:

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الغَيْثَ وَلَا تَـجْعَلْنَا مِنَ القَانِطِيْنَ

 “Ya Allah, tumpahkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau jadikan kami ke dalam golongan orang yang berputus asa.”

اللَّهُمَّ عَلَى الظِّرَابِ وَالْآكَامِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ وَبُطُوْنِ الْأَوْدِيَةِ. اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا.

“Ya Allah, curahkanlah hujan itu di atas tumpukan-tumpukan tanah dan bukit-bukit, tempat tumbuhnya pepohonan dan di dalam lembah-lembah. Ya Allah, curahkanlah di sekeliling kami dan jangan di atas kami.”

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا سُقْيَا رَحْـمَةٍ وَلَا تَـجْعَلْنَا سُقْيَا عَذَابٍ وَلَا مَـحْقٍ وَلَا بَلَاءٍ وَلَا هَدَمٍ وَلَا غَرَقٍ

“Ya Allah, jadikanlah hujan ini siraman rahmat, dan jangan jadikan hujan ini sebagai siraman siksa, dan janganlah menjadikan hujan ini siraman yang memusnahkan harta benda dan menjadi mara bahaya dan jangan siraman yang menghancurkan dan menenggelamkan.”

اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا هَنِيْئًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا سَحًّا عَامًّا غَذَقًا طَبْقًا مُـجَلَّلًا دَائِمًا إلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ اسْقِنَا الغَيْثَ وَلَا تَـجْعَلْنَا مِنَ القَانِطِيْنَ.

“Ya Allah, siramilah kami dengan hujan yang menyelamatkan, menyenangkan, menyuburkan, mengalirkan ke segenap penjuru, banyak air dan kebaikannya, memenuhi sungai-sungai dan selalu mengalir merata sampai hari kiamat. Ya Allah, tumpahkanlah hujan kepada kami dan janganlah menjadikan kami orang yang berputus asa.”

اللَّهُمَّ باِلْعِبَادِ وَالْبِلَادِ مِنَ الجُهْدِ وَالجُوْعِ وَالضَّنْكِ وَلَا نَشْكُوْ إِلَّا إِلَيْكَ

“Ya Allah, sesungguhnya semua hamba dan negeri tengah ditimpa kesusahan dan kelaparan dan kesempitan hidup dan kami tidak dapat mengadu kecuali kepada Engkau.”

اللَّهُمَّ أَنْبِتِ الزَّرْعَ وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَركَاتِ السَّمَاءِ وَأَنْبِتْ مِنْ بَركَاتِ الْأرْضِ وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ البَلَاءِ مَالَا يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ

“Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman-tanaman ini untuk kami dan perbanyaklah air-air susu binatang-binatang untuk kami, tumpahkanlah berkah dari langit untuk kami, dan tumbuhkanlah isi bumi untuk kami, dan hindarkanlah kami dari mara bahaya dan bencana alam yang tidak mampu kami menghindarkan kecuali Engkau ya Allah.”

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا فَأرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampun, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun. Tumpahkanlah hujan sederas-derasnya dari langit untuk kami.”

Wallahu A’lam.

Sumber:

Abu Bakar bin Muhammad Al Husaini Al Hisni Ad Damasyqi As Syafi’i, Kifayatul Akhyar Fii Halli Ghayatil Ikhtishar, Tanqih dan Tashih Khalid Al ‘Attar. (Surabaya, Darul Ilmi, Juz 1) hlm. 128-130.

Moh. Rifa’i, Risalah Tuntunan Shalat Lengkap, (Semarang, Toha Putra, cetakan 2018 edisi yang disempurnakan), hlm. 124-128

Share this

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *