PENDIDIKAN KEJUJURAN

oleh: umarsuhairi

KPK selalu mempublikasikan harta kekayaan calon pejabat negara. Entah sebagai calon bupati, wali kota, gubernur, maupun presiden. Langkah ini diambil agar masyarakat tahu dan bisa menilai sebelum dan sesudah menjabat nanti. Jika di akhir masa jabatan harta yang dilaporkan wajar dan logis jika dilihat dari gaji dan tunjangan yang diterima maka yang bersangkutan dianggap jujur dan bersih dari korupsi. Jika tidak wajar maka patut dicurigai.
Fenomena yang menyejukkan dimana semua orang berlomba-lomba untuk mengedepankan kejujuran dan transparansi yang tinggi. Ini lembaran yang bagus untuk ditularkan kepada seluruh Bangsa Indonesia agar lebih sejahtera dan terbebas dari jerat korupsi. Memang sepuluh tahun terakhir pemberitaan tentang praktek korupsi begitu banyak bertebaran di koran, radio, televisi, bahkan sampai obrolan di warung kopi. Korupsi yang diartikan sebagai “perbuatan yang merusak atau penyelewengan dengan memakai untuk kepentingan sendiri barang atau uang yang ada di bawah pengawasannya, menerima sogokan atau menggelapkan sudah menjadi tontonan masyarakat sehari-hari”. (Badudu-Zain, kamus umum bahasa Indonesia).
Melihat fenomena praktek korupsi yang melanda para pejabat kita, sebagian masyarakat sempat berkelakar “jika diadakan lomba donor anggota tubuh maka yang paling bagus organ tubuhnya adalah para koruptor. Alasannya, mata mereka jarang melihat kelaparan dan kemiskinan yang melanda, telinganya tertutup dari rintihan kaum papa, hati koruptor masih orisinil karena jarang merasakan penderitaan rakyat jelata.
Berbeda halnya dengan Umar bin Khattab yang menangis tersedu-sedu ketika mendengar laporan seekor keledai tergelincir dan jatuh gara-gara jalan yang dilewati rusak berat di kota Bangdad Irak. Beliaupun pernah memanggul sendiri sekarung gandum untuk diberikan kepada keluarga miskin yang ia lihat sendiri sedang memasak batu untuk menenangkan anaknya yang kelaparan.
Pendidikan Kejujuran
SMA IT Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto pernah mengadakan seminar nasional di Pendopo Wakil Bupati tentang urgensi pendidikan kejujuran sejak dini untuk memberantas korupsi. Seminar yang isi oleh pejabat KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) ini membuktikan komitmen kuat Al Irsyad Purwokerto khususnya SMA untuk senantiasa menjadi teladan dalam pendidikan karakter terutama sifat jujur dan amanah yang dibebankan. Jujur dan amanah adalah sifat yang selalu dicontohkan oleh para khalifah Islam jaman dulu seperti Umar bin Khattab r.a., Umar bin Abdul Aziz, Harun Ar-Rasyid dan yang lainnya. Itulah prestasi dalam pemerintahan yang sebenarnya.
Di Era sekarang dalam konteks dunia pendidikan, guru dan siswa harus bertekad untuk meraih prestasi yang sama. Tentu dengan cara yang berbeda yang sesuai dengan dunia ilmu dan pembelajaran. Dalam dunia pendidikan guru dan siswa harus menyadari bahwa prestasi sejati bukan hanya meraih medali namun lebih dari itu aplikasi dari ilmu yang telah dipahami.
Rasulullah pernah bersabda;”kejujuran akan selalu menolong kalian” hadits ini begitu relevan untuk zaman kapanpun termasuk era sekarang. Kejujuran dalam mengelola Negara akan menolong bangsa keluar dari keterpurukan dan mengangkatnya ke atas langit kemakmuran. Kejujuran dalam berdagang akan membawa keberkahan dan kesejahteraan bagi pelakunya dan juga orang lain. Umar bin Khattab manusia yang terdidik hati dan mentalnya. Rasulullah memberikan contoh langsung bagaimana mengelola Negara dan masyarakat dengan pendekatan iman, amanah dan kejujuran sehinggga menghasilkan pemerintahan yang gemilang di zamannya. Di mana saat itu Islam terbentang luas dari Yaman, sampai Iraq dan Mesir saat ini. Dalam Hadits yang lain Rasulullah bersabda:”sesungghnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga”.(al hadits). Surga tempat yang penuh kenikmatan dan kedamaian. Dunia pun akan diliputi dengan kemakmuran dan kesejahteraan jika kejujuran menjadi karakter dasar dan perilaku penghuniya. Tapi sebaliknya jika korupsi, penyelewengan dan penggelapan yang menjangkiti maka bisa dilihat Indonesia masa kini, “yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin”.
Di sudut Bumi nun jauh disana ada suatu Negara yang memiliki klub sepak bola yang kekayaannya melebihi kekayaan satu bahkan gabungan beberapa Negara di Afrika. Bahkan sebagian penduduknya untuk makan sehari hari bergantung dari bantuan PBB untuk pengungsi. Tapi di tempat lain gaji seorang pemain sepak bola bisa mencapai 1,3 triliun setiap pekan. Kesenjangan ini menginspirasi seorang pemain bola professional muslim asal Afrika yang peduli terhadap nasib bangsanya dengan menyumbangkan sebagian besar gajinya untuk membantu masyarakat miskin di Negaranya.
Berbuat Untuk Negeri
Tanggal 2 Mei momentum penting bagi bangsa Indonesia. 2 Mei dijadikan sebagai hari Pendidikan Nasonal bertepatan dengan hari lahirnya salah satu tokoh pendidkan kita yaitu Ki Hajar Dewantara dengan nama asli Raden Mas Soewardi. Perjuangan beliau untuk memajukan pendidikan tidak pernah surut bahkan terasa sampai saat ini. Dengan motto “Tut Wuri Handayani” pemerintah terus berusaha keras untuk memajukan pendidikan di Indonesia di antaranya dengan ditetapkannya anggaran 20% dari APBN untuk pendidikan. salah satu cara yang ditempuh untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan cara menerapkan ujian nasional.
Ujian Nasional sebagai salah satu komponen penting dari sistem pendidikan di Indonesia menyisakan banyak PR dan catatan. Banyak sekali masyarakat dan praktisi pendidikan yang mempertanyakan tentang landasan filosofi, tujuan, biaya yang besar, dan teknik pelaksanaan. Ditambah lagi dengan kasus kebocoran soal ujian yang selalu merebak beritanya ketika pelaksanaan ujian. Kebocoran soal ujian selalu terjadi karena banyak siswa yang mengambil jalan pintas dengan mencari orang yang bisa membantu mendapatkan kunci jawabaan, ditambah lagi pihak sekolah dan dinas pendidikan terbebani dengan imej dan gengsi daerah jika banyak siswa sekolah didaerahnya yang tidak lulus Ujian Nasional. Fenomena ini disinyalir menjadi pemicu praktik parktik kecurangan atau ketidakjujuran dalam pelaksanaan ujian nasional. meskipun pada akhirnya ujian nasional bukan menjadi penentu satu-satunya dalam kelulusan siswa.
Terlepas dari pro dan kontra ujian nasional sebagai pelajar muslim kita harus lebih menyadari bahwa manusia di manapun dan kapanpun pasti akan diuji oleh manusia maupun oleh Sang Pencipta. Menurut Kak Seto Mulyadi (Ketua KOMNAS Perlindungan Anak) Ujian Nasional ibarat “potret pendidikan” sedangkan proses selama belajar seperti “rekaman pendidikan”. Tentu kita lebih mengutamakan “rekaman” dibanding “potret” yang didalamnya menyimpan ribuan file pengalaman belajar yang tak ternilai. Tehnik belajar efektif, pembiasaan akhlakul karimah dan keterampilan yang lain. Karena hakekat pendidikan itu adalah perubahan tingkah laku, itu yang kita tuju. Dengan “rekaman” pendidikan (sikap dan akhlak) yang baik kita pasti mampu melalui ujian apapun bentuknya termasuk ujian nasional dengan percaya diri, jujur dan bisa dipertanggungjawabkan. Inilah investasi untuk negeri di kemudian hari. Kejujuran yang kita pupuk sejak dini suatu saat nanti pasti akan berbuah prestasi bukan hanya untuk diri pribadi tapi juga untuk negeri yang kita cintai. Praktik korupsipun akan mudah teratasi. Kita berdo’a dan berusaha dengan lebih menitikberatkan kepada pendidikan karakter(diantaraanya kejujuran), dengannya Allah akan mengangkat bangsa ini menjadi bangsa yang makmur sejahtera, berwibawa, disegani bangsa lain, dan tentunya bisa membantu saudara-saudara kita di belahan dunia yang lain, Amin.

 

Share this

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *